Hari senin, seperti biasa upacara bendera akan mengawali minggu ini. Upacara sudah hampir dimulai, hanya menunggu para pahlawan tanpa jasa untuk memberikan tanda bahwa mereka telah siap mengikuti upacara ini.
“Pagi..!” terdengar suara bersemangat menyapa dari barisan belakang XII IPA 2.
Itulah Esra Anggelina Leluni, walaupun ia adalah ketua Komite Kedisiplinan Sekolah selalu saja datang tepat waktu maksudnya datang pada detik-detik terakhir.Inilah yang membuatnya dipanggil ‘si detik terakhir’. Katanya harus mempergunakan waktu dengan baik, jadi ia tak mau membuang-buang waktunya dengan harus menunggu. Baginya tidak ada alasan untuk berlama-lama duduk ngobrol tidak jelas bersama teman.
Upacara telah selesai dilaksanakan, barisan yang ada di lapangan upacara perlahan mulai membubarkan diri.
“Esra…” teriakan dari arah parkiran, segra ia menoleh dan mulai tertawa, ternyata Via.
“Ganti profesi ya?hahaha” ucap Esra.
“Ia, sejak pagi ini kita-kita resmi jadi resmi jadi tukang* parkir! Puas” balas Ardel.
“Sangat puas, soalnya muka kalian cocok jadi tukang parkir.” Tambah Esra meledek.
“Kayanya lebih cocok muha pian* yang jadi tukang parkir Sra” jawab Siti.
“Eh kalian ini, kebiasaan nggak ingat waktu kalau sudah ngumpul gini. Pak Edy sudah mau lepas landas sana, cepat kekelas.” Erai berusaha melerai teman-teman akrabnya itu.
“uuu..diang winey* ngamuk, sabar buu” ucap Via
“The Chimeeess..Lets Go!”ucap mereka hampir bersamaan lalu tertawa sambil berjalan menuju XII IPA 2.
Enam orang gadis cantik itu menamakan diri mereka ‘The Chimess’. Siapa siswa yang tidak mengenal mereka, gang terpopuler di SMA ini selain ‘5 Prince’ yang berisi cowok-cowok super keren. The Chimess itu diketuai oleh Esra Anggelina Leluni atau Esra si detik terakhir, ketua Komite Kedisiplinan Sekolah. Cewek tomboy dan cantik ini juga pemegang gelar ‘The Best Black Belt seKalimantan’. Ia adalah cucu tunggal dari pemilik perusahaan penerbangan Josykanzy air. Otaknya yang lumayan brilian, sifatnya yang rendah hati, dan tidak sombong membuatnya banyak disukai oleh orang disekitarnya. Kemudian ada Via Etriani si ratu dandan, di mana pun dan kapan pun ia selalu siap siaga dengan alat make upnya. Ia dan Esra sering kali bertengkar dan adu mulut karena berbagai alasan. Ardel Noviras si pangeran walaupun dia seorang wanita tapi ia memiliki wajah yang sangat tampan, sehingga banyak yan g mengira dia seorang laki-laki. Siti Faridah si dayak banjar, bahasa banjar yang sangat kental didalam dirinya membuat ia dipanggil seperti itu. Yang terakhir Erai Taka si Bunda, Ketua Osis, cewek paling cantik dan dewasa dari keenam orang sahabat ini.
The Chimess bahkan memiliki fans club disekolah ini, yaitu The Chimers. Walau banyak yang menyukai mereka, sayangnya diantara mereka belum ada terpikirkan untuk memiliki kekasih. Seorang siswa berusaha menjelaskan pada temannya siapa The Chimess.
“Selamat pagi teman..” ucap The Chimess bersamaan.
“Eh The Chimess makin cantik aja..ehm..kecuali Esra!hahaha” ledek Kia.
“Kiaaa..dasar cowok nyebelin! Pagi-pagi sudah cari gara-gara!” kata Esra dengan kesalnya.
Spontan, ucapan Esra disertai dengan aksi kejar-kejaran dengan kia. Kia adalah ketua gang 5 Prince yang terkenal dengan wajah menawannya dan prestasi yang selangit, sekaligus sebagai wakil Ketua Komite Kedisiplinan. Esra dan Kia memang selalu begitu, setiap hari selalu bertengkar entah bagaimana mereka bisa bekerjasama dalam urusan Komite Kedisiplinan.
“Esra..Kia..sudah! jangan kaya anak kecil, kalian ini nggak bisa berubah ya!” omel Erai.
Pak Edy masuk ke ruang kelas semua menuju tempat duduknya masing-masing. Sebelum memulai proses belajar Pak Edy mengajak berdoa.
Kriiiiiiiing..!!! Bel tanda istirahat berbunyi. Sekejap kantin sekolah sudah penuh, sesak dengan siswa-siswi yang berusaha menyelematkan diri dari bencana kelaparan yang sedang melandanya. Tidak ketinggalan The Chimess juga turut serta didalamnya. Setelah 15 menit berlalu, bel sekolah itu berbunyi lagi, saatnya kembali ke kelas dan belajar. Ditengah perjalanan menuju kelas, seseorang memanggil Esra dengan nafas yang tidak beraturan, sepertinya ia kelelahan mencari dan berlari mengejar Esra yang berada ditengah kerumunan The Chimess dan The Chimersnya. Esra mencari-cari asal suara itu, ternyata Rian.
“Esra, sekarang juga kamu mesti keruang Kepsek, katanya penting!” jelas Rian.
“Apa Kia sudah disana?” Esra bertanya dengan tenang.
“Nggak, kali ini kamu sendiri”jawab Rian dengan singkat.
“owwh.. Makasih sudah ngasih tau. The Chimess duluan aja, ntar Esra nyusul”kata Esra.
Esra pun segra pergi ke ruang kepala sekolah. Dalam perjalanan Esra berpikir apa ini ada hubungannya dengan Komite Kedisiplinan, tapi kenapa tanpa Kia? Biasanya dia juga ikut diminta menghadap pak kepala sekolah. Ia berusaha mengingat-ingat lagi apa ada kesalahan dalam Komite Kedisiplinan, laporan bulanan sudah dibuat, akhir-akhir ini juga tidak ada kasus yang terjadi, tapi apa?kenapa? Tok..tok..tok..!! Esra mengetuk pintu.
“Masuk”terdengar suara dari dalam
Esra membuka pintu dan masuk. Ternyata didalam sudah ada tamu, Esra berusaha mencari tahu siapa itu. Ternyata Julak* Andi, ada apa sebenanya ini? Esra bertanya-tanya dalam hati. Pak kepala Sekolah menjelaskan apa maksud Esra dipanggil keruangan itu, kemudian dilanjutkan oleh Julaknya. Ternyata ayah Esra ditembak orang tidak dikenal dan sedang terbaring tidak sadarkan diri, ia kritis. Seketika Esra panik, tangisnya meledak, ia ketakutan. Julak meminta ijin pada kepala sekolah untuk membawa Esra ke rumah sakit di mana ayahnya dirawat.
Sesampainya di rumah sakit, Esra langsung berlari menuju ICU tempat ayahnya berada. Di dalam ruangan itu sudah ada bunda yang berderai air mata sambil memegangi tangan ayah Esra. Sesaat Esra terpaku diam didepan pintu, ia menatap wajah ayahnya, kemudian menghambur memeluk ayahnya. Berusaha memanggil-manggil dengan berderai air mata, berharap ayahnya bangun. Keajaiban terjadi, ayahnya bangun dan menghapus air mata Esra, ia memegang kepala Esra.
“Esra, kamu adalah kuncinya. Kamu harus menghancurkan Garuda Hitam. Lihat kedalam dirimu lebih jauh, maka kamu akan menemukan jawabannya, Ayah sayang Esra dan bunda.” Ucap ayah Esra lirih.
Setelah itu, ayah Esra meninggal. Tangis Esra dan bundanya pun pecah, Esra berteriak memanggil ayahnya tapi tidak ada yang terjadi, ayahnya sudah pergi untuk selama-lamanya. Dada Esra sesak, panas, ia mulai gemetar, dan dunia ini sepertinya mulai gelap, Esra jatuh pingsan. Esra sangat terpukul, pikirannya kacau. Ia tidak percaya jika ia sudah tidak memiliki ayah, sekarang hanya ada ia dan bunda. Esra ingin memberontak pada Tuhan, kenapa Tuhan mengambil ayahnya. Esra tak bisa henti-hentinya menangisi kepergian ayahnya, bahkan sampai acara pemakaman selesai.
Tiga hari kemudian Esra kembali bersekolah, ia terlihat murung. Matanya masih sembab karna terus-terusan menangis, banyak teman-teman yang berusaha menghibur Esra. Mereka merindukan Esra yang biasanya. Mereka mencoba berbagai cara agar Esra bisa tertawa. Usaha yang mereka lakukan memang tidak sia-sia. Seminggu kemudian, Esra mulai kembali menjadi ia yang dulu.
Pagi yang cukup cerah untuk memulai hari, Esra menarik nafas panjang dan berangkat kesekolah. Sesampainya di sekolah, ternyata ada anak baru bernama Pancis yang tidak kalah kerennya dari Kia, dalam sehari saja ia mampu menyamai kepopuleran Kia. Pancis mendekati Esra kemana pun Esra ia ingin ikut dan berusaha memberi Esra perhatian, sayangnya Esra tidak tertarik dengannya. Tiga hari kemudian, kelas Esra kedatangan satu anak baru lagi beramanya Soru. Heran, anak ini juga mendekati Esra. Membuat ia dan Pancis bersaing ketat untuk bisa dekat dengan Esra.
Esra sedang sakit hari ini, ia memilih pergi ke UKS untuk pergi beristirahat. Pancis dan Soru beradu mulut karena sama-sama ingin menemani Esra ke UKS, kemudian adu mulut itu berkembang menjadi sebuah perkelahian. Tiba-tiba datang sekelompok orang yang mengacaukan kondisi sekolah, seluruh siswa dievakuasi kedepan kantor dibantu oleh aparat kepolisian. Terjadi pertempuran sengit antara aparat dengan sekelompok orang asing itu dilapangan terbuka. Sedangkan di ruangkelas ternyata masih ada Pancis dan Soru yang berkelahi untuk memperebutkan Esra yang tidak sadarkan diri. Akhirnya Pancis berhasil membawa lari Esra menjauh dari Soru. Kemudian sekelompok orang asing yang menyerang itu dengan sendirinya pergi. Akibat kejadian ini sekolah diliburkan selama tiga hari.
Setelah tiga hari semua siswa kembali bersekolah, kecuali Pancis dan Soru. Mereka menghilang setelah kejadian tiga hari yang lalu. Banyak yang bertanya-tanya kemana mereka, tapi tidak ada yang mengetahuinya.
Esra melirik jam tangannya berharap pelajaran Kimia ini segra berakhir tapi ternyata masih ada waktu dua jam, ia menarik nafas panjang dan kembali memperhatikan Pak Adang. Ditengah keheningan kelas terdengar suara ketukan pintu, Pak Andrei berdiri disana ia meminta ijin untuk mengajak beberapa murid ke kantor.
“Boleh keluar sebentar yang saya sebutkan namanya dan ikut bapak ke kantor. Kia, Lelu, Adit, Tano, Gilang, dan yang terakhir Esra” kata pak Andrei dengan singkat.
Hemm, apa lagi ini? Gerutu Esra dalam hati. Keenam murid itupun pergi ke kantor mengikuti Pak Andrei. Sesampainya di kantor mereka disambut dengan senyum hangat dari Kapolres, Dandim, dan Kepala sekolah. Tanpa basa-basi mereka menjelaskan tujuannya bertemu dengan keenam siswa ini, ternyata ada hubungannya dengan kejadian tiga hari yang lalu, kematian ayah Esra, serta munculnya Pancis dan Soru disekolah ini.
Sejak Proklamasi kemerdekaan, ada dua organisai besar yang terlibat konflik rahasia. Dua organisasi itu adalah Garuda Hitam dan Naga Putih. Kemudian dalam perkembangannya Naga Putih menjadi POLRI sedangkan Garuda Hitam menjadi kelompok teroris. Ayah Esra dulunya adalah pemimpin Garuda Hitam, namun kemudian ia menyadari organisasi ini tidaklah baik untuk keluarga dan orang disekitarnya. Ia keluar dari organisasi itu, dan memiliki kunci untuk menghancurkan organisasi tersebut sehingga Garuda Hitam harus membunuhnya. Untuk keamanan Ayah Esra atau Bidik kemudian merubah identitasnya menjadi Putra dan memulai hidup baru, ia menikah dengan seorang wanita bernama Siani dan memiliki anak bernama Esra.
Kematian ayah Esra karena ditembak orang dari Garuda Hitam, sebelum kematiannya ia meninggalkan kunci itu pada Esra. Hal ini diketahui Garuda Hitam dan POLRI. Inilah mengapa Pancis dan Soru ada. Pancis berasal dari POLRI yang bertugas melindungi Esra, sedangkan Soru dari Garuda Hitam yang berusaha menculik dan memastikan kematian Esra tanpa meninggalkan kunci kehancuran Organisasi mereka. Kejadian 3 hari yang lalu akibat Soru berusaha menculik dan membunuh Esra, tapi Pancis berhasil menggagalkannya. Sekarang saatnya Esra menggantikan tugas ayahnya untuk menghancurkan organisasi itu dengan bantuan teman-temannya serta POLRI.
Setelah mendengarkan penjelasan singkat itu, Esra, Kia, Lelu, Adit, Tano, dan Gilang dibawa ke Markas Besar Gabungan TNI POLRI (MBG) untuk mendapat pengarahan serta pelatihan terjun kedalam konflik ini. Sepanjang perjalanan Esra tidak bisa mempercayai kenyataan yang ia hadapi, ia tidak bisa memahami mengapa ia dan keluarganya terlibat dalam hal serumit ini. Esra tidak habis pikir mengapa kedua organisasi ini tidak berdamai saja. Kenapa harus menunggu ayah terbunuh baru POLRI bergerak.
“aaahh, Shiit !!” ucap Esra, membuat semua mata mengarah padanya.
Sesampainya di MBG mereka dipersilahkan untuk beristirahat terlebih dahulu. Keesokan harinya mereka mendapatkan pengarahan dan penjelasan langsung dari KAPOLRI. Kemudian masih ada jadwal mengikuti latihan menembak dihari berikutnya. Selama seminggu mereka melakukan itu.
Tiba-tiba ada laporan masuk, terjadi penyerangan di Ampah lokasinya disekitar rumah Esra. Esra panik, ia takut terjadi sesuatu terhadap bundanya. Benar saja, bunda Esra telah terbunuh dalam konflik tersebut. Esra histeris mendengar kabar itu jiwanya sangat terguncang, ia menangis dan tidak henti-hentinya menyalahkan keadaan ini.
“Esra, aku ada disampingmu untuk menghadapi kenyataan ini” kata Kia sambil memeluk Esra yang masih menangis histeris.
“kiaaa, ayah dan bunda sudah ngak ada mereka pergi ninggalin Esra. Esra Ngak punya siapa-siapa lagi” ucap Esra lirih.
“kata siapa, kamu masih punya Aku dan teman-teman. Kamu harus bisa hadapin kenyataan ini. Mereka adalah korban, jadi kita harus menghentikan konflik ini dan menghancurkan Garuda Hitam”jawab Kia berusaha menenangkan Esra
“Benar, akulah kuncinya, aku yang akan menghancurkan Garuda Hitam. Akan ku temukan orang yang membunuh ayah dan bunda, akan ku balaskan kematian mereka” kata Esra dengan penuh dendam.
“iaa, kita bersama yang akan menghancurkannya. Jadi sekarang kamu istirahat dan besok kita akan pergi ke ampah untuk acara pemakaman Bunda, yahh?” kia berkata sambil menatap mata Esra.
“iaa, baiklah. Selamat malam” kata Esra
Keesokan harinya terjadi keributan di MBG, Esra menghilang. Tidak ada yang mengetahui kemana ia pergi. Semua berpikir bagaimana bisa menemukannya, karna tanpa Esra misi untuk menghancurkan Garuda Hitam tidak mungkin berhasil.
Kia berpikir keras kemana Esra pergi. Ia mengingat-ingat semua yang terjadi kemarin, dan ia menyadari ucapan Esra penuh dendam kemarin. Ia akan menghancurkan Garuda Hitam untuk membalaskan kematian ayah dan bundanya. Ia tergesa-gesa memberitahukan pada KAPOLRI, dan mereka pergi menyusul Esra ke markas Garuda Hitam dan membawanya kembali ke MBG. Satu kompi khusus misi ini pun dikerahkan.
Sesampainya disekitar markas Garuda Hitam mereka membagi wilayah bertugas.
“siap, brangkaaat!!” kata Kapolri sebagai kapten pasukan.
Penyusupan ke markas Garuda Hitam pun dimulai. Awalnya semua berjalan lancar sampai Bram si pemimpin Garuda Hitam menyadari ada orang asing sedang menyusup ketempatnya. Saling tembak pun tak bisa dihindari. Banyak berjatuhan korban dikedua belah pihak.
Mendengar bunyi tembakan, Esra bergerak semakin berhati-hati tapi ia tidak menyadari telah masuk keruang utama markas ini yaitu ruang pemimpin Garuda Hitam. Iapun bertemu dengan Bram, dengan segenap dendam dan rasa nekat yang ia miliki Esra mengangkat pistolnya bermaksud mengancam Bram. Namun, ternyata Bram tertawa melihat tindakan Esra.
“hahaha.. jangan bertindak bodoh seperti ayahmu Esra Anggelina Leluni, aku tidak mau mengotori tangan ku dengan darah anak kecil seperti mu” kata Bram.
“Jangan meremehkan aku, aku disini untuk menghancurkan organisasi biadab ini” ucap Esra dengan penuh amarah.
Tanpa pikar panjang, Esra menarik pelatuk pistolnya. DOORRR!!. Tembakan itu meleset, Bram menghindar dan melepaskan tembakan kearah Esra. DORRR!! suara letusan pistol terdengar lagi, tapi Esra berhasil menghindarinya.
Kia mendengar suara itu dan berlari kearahnya, ia berharap menemukan Esra disana. Dari kejauhan ia melihat Esra sedang berusaha melindungi diri di samping sebuah lemari. Ia merasa sangat lega karena Esra masih hidup walaupun ditengah bahaya seperti itu, kemudian berlari menuju Esra bermaksud melindunginya. Esra terkejut dan hampir melepaskan tembakan ketika Kia memegang bahunya. Esra menjelaskan keadaan yang sedang terjadi, kemudian Esra memberitahukan bahwa diluar sana sudah banyak korban berjatuhan.
Mendengar itu Esra semakin sedih, dan tiba-tiba keluar menyerang Bram dengan membabi-buta.
“Bram, lihat..apa kalian tidak puas melihat korban yang berjatuhan begitu banyak! Garuda Hitam biadab, binatang kalian” teriak Esra sambil menembaki Bram.
Bram tidak bisa melakukan apapun karena tembakan dari Esra tak henti-hentinya. Namun, itu tidak berlangsung lama. Pistol Esra kehabisan peluru dan saat itulah Bram melepaskan tembakan kearah Esra. Esra terkejut dan terdiam ditempatnya tanpa bisa bergerak untuk menghindar, tapi tiba-tiba Kia melompat didepan Esra melepaskan tembakan sekaligus merelakan dirinya ditembak untuk melindungi Esra.
“Kiaaaaaa…kamu harus bertahan, kiaaa” Esra berderai air mata.
“Jangan menangis, kamu kunci misi pemusnahan Garuda Hitam jadi kamu harus kuat dan tegar. Esra satu hal yang harus kamu tau, aku menyayangi mu” ucap kia lirih.
“Ia..ia..aku tau, karna itu kamu harus bertahan kiaaa” jawab Esra sambil memeluk Kia yang berlumuran darah.
“Bagaimana, masih mau bermain dengan ku. Sebenarnya aku merasa bersalah padamu Esra, aku telah membunuh ayahmu, kemudian bundamu, dan sekarang aku telah melukai orang yang kau sayangi, hahaha” ucap Bram dengan bangga.
“Jadi kamu yang melakukannya? Baik berarti aku sudah menemukan mu” ucap Esra sambil menatap Bram dengan penuh amarah.
Esra mengambil pistol ditangan Kia dan berlari kearah Bram. Mereka berdua bersiap melepaskan tembakan dan DOOORRR!! Dua suara tembakan menjadi satu. Bram jatuh bersimbah darah, dada kanannya tembus terkena timah panas. Sedangkan Esra ia tidak mampu berdiri karena paha kirinya terkena tembakan. Tiba-tiba markas itu meledak, semuanya musnah.
“Adeee, bangun..kamu nggak karate sore ini?” mamah membangunkanku dari mimpi panjang ini
“oh ia mah” segera aku berlari kekamar mandi untuk menyegarkan otakku yang masih penuh dengan mimpi yang barusan.
SELESAI
sebenarnya ini tugas bahasa indonesia, tapi dari pada disimpan mending di pajang di blog aja.